Tuesday, September 20, 2016

MALING YANG BERTOBAT

MALING YANG BERTOBAT
Oleh: Deny Wibisono


            Tobi adalah seorang pencuri. Setiap kali ia beraksi, ia selalu berhasil. Kalau pun sampai ketahuan, ia bisa lari secepat kilat. Orang yang mengejarnya pun pasti akan kehilangan jejaknya. Itulah keahlian Tobi sebagai seorang pencuri.
            Sebagai pencuri, Tobi punya kebiasaan unik. Saat mencuri, ia hanya mengambil benda atau uang secukupnya. Setelah barang curiannya habis, barulah ia mencuri lagi.
            Suatu hari, Tobi melihat anak kecil menangis. Semula ia tidak peduli. Namun, setelah mendengar rintihan gadis kecil itu, Tobi jadi tertarik.
            “Ibu, kenapa kalung kesayanganku hilang?” keluh gadis kecil itu seraya menangis tersedu-sedu.
            “Maafkan Ibu, Nak. Kalung itu dicuri maling. Ibu janji, dua tahun lagi Ibu akan membelikanmu kalung baru. Sekarang Ibu masih belum punya uang” bujuk ibu gadis kecil itu.
            Tobi teringat, semalam ia baru mencuri kalung gadis kecil itu. Ia lalu pulang dengan hati bimbang. Setelah kejadian ini, ia ingin berhenti menjadi pencuri. Ia sadar, ternyata ia telah membuat orang-orang yang dirampoknya menjadi sedih. Apalagi jika benda-benda yang diambilnya ternyata adalah benda kesayangan.
            Tobi mulai bingung. Keterampilannya selama ini hanya mencuri. Ia tidak punya keterampilan lain. Lalu bagaimana ia harus menyambung hidupnya? Pekerjaan apa yang cocok untuknya? Esok harinya, Tobi mulai mencari-cari pekerjaan. Ia menjadi kuli, petani, pedagang, dan banyak pekerjaan lain. Berhari-hari Tobi mencari pekerjaan. Namun, semuanya tak ada yang cocok, menurutnya.
            Ketika berjalan-jalan, Tobi bertemu dengan pengemis di jalan.
            “Wahai pengemis, apa kau suka dengan pekerjaanmu?” Tanya Tobi ramah. Tak lupa ia memberikan sekeping koin.
            “Sebenarnya tidak. Aku sedang berusaha mencari pekerjaan. Aku ingin mengerjakan pekerjaan yang lebih baik dari pada mengemis,” jawab pengemis itu.
            “Masalahmu sama denganku, Pak!” ujar Tobi putus asa.
            “Terus berusahalah, anak muda. Selama kita pernah berbuat baik, kita akan diberi kemudahan oleh Tuhan,” nasihat pengemis itu sambil berlalu pergi.
            “Berbuat baik? Apa yang harus aku lakukan?” gumam Tobi bingung.
            Tobi tak tahu harus bekerja apa lagi. Semua pekerjaaan sudah ia coba dan hasilnya tidak ada yang cocok.
            Akhirnya, Tobi memutuskan untuk mencuri lagi. Ia merasa tidak punya pilihan lain.
            Malam itu Tobi mengendap-ngendap memasuki sebuah rumah. Ia melihat penghuni rumah telah tertidur. Tobi melangkah tenang karena penghuni rumah itu hanya seorang nenek.
            Tak lama Tobi sudah berada di dalam rumah. Ketika ia akan mengambil selembaran uang, Nenek itu tiba-tiba terbangun.
            “Cucuku, akhirnya kamu datang juga. Kesinilah sebentar, pijati punggung Nenek yang pegal!” kata Nenek itu.
            Tobi terkejut sekali mendengar ocehan si Nenek. Rupanya si Nenek sedang mengigau. Ia menganggap Tobi sebagai cucunya. Dengan terpaksa, Tobi pun menuruti perintah sang Nenek.
            Tobi kesal sekali karena disuruh memijat. Apalagi ia belum sempat mencuri. Dengan terpaksa ia memijati sang Nenek.
            Tak lama kemudian sang Nenek memberi Tobi uang yang lumayan.
            “Ini sebagai imbalan karena kamu pintar memijat, Cu! Terima kasih, ya!” sambung si Nenek. Sambil mengigau, Nenek itu mengambil uang dari bawah bantalnya, dan memberikan pada Tobi.
            Nenek itu lalu tidur nyenyak kembali. Tobi yang telah mendapat uang dari hasil memijat, kemudian pergi. Ia tak jadi mencuri karena sudah mendapat uang.
            Setiba di rumah, Tobi menimang-nimang uang pemberian Nenek. Ia merasa senang sekali, karena bisa mendapat uang dari hasil bekerja. Tiba-tiba ia tersenyum senang karena mendapat ide.
            “Yah! Mulai hari ini aku berhenti menjadi pencuri, dan akan menjadi seorang pemijat,” tekadnya bulat.
            Esoknya Tobi memulai usahanya menawarkan jasa pijat. Rupanya banyak orang yang membutuhkan pijatan. Hari itu Tobi mendapat uang yang lumayan. Tobi semakin senang.
            Ia lalu teringat perkataan si pengemis tentang perbuatan baik. Ia mencoba mengingat-ingat, perbuatan baik apa yang pernah ia lakukan? Tobi merasa tidak pernah berbuat baik. Satu-satunya kebaikan yang pernah ia lakukan, adalah memberikan pengemis itu sekeping uang.

            Tobi sadar, meski hanya sekeping uang, ternyata hal itu dapat mengubah hidupnya. Ia pun berjanji akan berbuat baik lebih banyak lagi.

Friday, September 16, 2016

MACHIKA DAN KUCING AJAIB PART 1

MACHIKA DAN KUCING AJAIB PART 1
Oleh: Veronica Widyastuti


            Machika mendongak, mengamati pohon papaya di hadapannya. Hmm, papaya yang bersemburat jingga itu terlihat menggiurkan. Panas-panas begini, pasti segar makan papaya dengan kucuran air jeruk nipis dan taburan es batu yang dihancurkan.
            Anak perempuan berumur sepuluh tahun itu sedang menimbang-nimbang, bisakah dia memanjat pohon papaya itu? Kuatkah si pohon papaya kalau dia panjat? Kalau sekedar memanjat pohon jambu air di depan rumah, Machika jagonya. Tetapi, memanjat pohon papaya? Machika belum pernah melakukannya.
            Hap! Hap! Hap! Dengan cekata, Machika mulai naik. Tak sampai lima menit, buah papaya incarannya sudah di tangan. Tiba-tiba, Machika bingung, bagaimana cara dia turun? Dengan satu tangan memegang papaya, Machika jadi tidak bisa berpegangan di pohon.
            “Machikaaa!”
            Gubrak! Teriakan Ibu menjawab kebingungan Machika. Saking kagetnya, Machika pun jatuh, langsung mendarat ke tanah dengan tangan kanan tetap memegang buah papaya. Machika meringis menahan sakit. Pohon papaya yang dipanjatnya memang tidak terlalu tinggi. Tetapi, kalau jatuh dari atas, tetap berasa sakitnya.
            “Machika! Ya ampun, Machika! Kenapa enggak pakai galah saja sih?” sambut Ibu panik sambil menolong Machika berdiri. “Ada yang sakit?”
            Machika membisu menatap ibunya. Jatuh dari pohon, enggak mungkin kalau enggak sakit, batinnya. Tetapi, dia gengsi. Memanjat pohon kan memang hobinya. Kalau Cuma jatuh begitu saja, dia tak ingin terlihat lemah.
            Untung sakit Machika tak serius. Buktinya sebentar kemudian dia sudah asyik menikmati papaya segar yang dipotong kecil-kecil, diciprat air jeruk nipis, dan ditaburi es batu yang dihancurkan. Segaaar!
            Sayang, kesegaran yang dinikmatinya tak berlangsung lama. Tiba-tiba Ibu dan Ayah memanggil Machika, lalu menyuruhnya duduk di hadapan mereka. Duh, Machika jadi deg-degan. Apa yang akan mereka sampaikan? Masa sih hanya gara-gara memanjat pohon papaya dia harus dihukum? Biarpun jatuh dia kan tidak menangis maupun mengeluh?
            “Machika,” Ibu memulai pembicaraan. “Ayah dan Ibu sudah berdiskusi. Sepertinya Ayah dan Ibu akan sakit kepala kalau selama libur seminggu ini kamu hanya tinggal di rumah. Bagaimana kalau kami mengantarmu berlibur di rumah Nek Suma? Nek Suma pasti senang kalau kamu menemaninya.”
            Ups, Machika tercekat. Nek Suma adalah ibu dari ibu Machika. Sebenarnya, Nek Suma cukup menyenangkan. Nek Suma bisa menerima kebandelan-kebandelan yang dilakukan Machika. Nek Suma tidak marah ketika Machika menyembunyikan sandal kirinya. Nek Suma juga tidak gusar ketika Machika menggoda Nek Suma dengan membunyikan bel rumah, lalu lari bersembunyi.
            Tetapi, kadang-kadang Machika merasa kalau Nek Suma itu misterius dan menyeramkan. Machika pernah melihat Nek Suma malam-malam menabur garam di halaman. Machika juga pernah memergoki Nek Suma menabur bunga mawar dan melati di kamarnya. Hiii, Machika jadi merasa seram. Kok seperti nenek sihir ya?
            Waktu itu sih Nek Suma sudah menjelaskan kalau dia menaburkan garam di halaman untuk mengusir ular. Soalnya malam sebelumnya ada tetangganya yang melihat ular di pekarangan rumah Nek Suma. Ah, padahal Machika tahu kalau ular tidak takut pada garam!
            Lalu, alasan menabur bunga mawar dan melati, sebagai pengharum ruangan alami. Nek Suma suka wanginya. Tetap saja, Machika merasa aneh dengan perilaku Nek Suma itu.
            Tetapi, benar juga kata Ibu, kalau libur seminggu ini Machika hanya di rumah, selain membuat Ayah dan Ibu sakit kepala, Machika juga pasti akan merasa bosan. Akhirnya, Machika setuju untuk menghabiskan liburan di rumah Nek Suma.
            “Machika! Nenek senang kamu mau berlibur di sini. Kebetulan, Nenek punya kucing baru, si Hitam. Kamu bisa belajar bertanggungjawab dengan memelihara si Hitam. Nanti, kamu yang bertugas memberinya makan dan memandikannya ya!” sambut Nek Suma ketika Machika datang diantar Ayah dan Ibu.
            Kucing? Ih, Machika tak suka kucing! Apalagi, ketika Machika melihat kucing yang diberi nama Hitam oleh Nek Suma. Bulunya memang hitam polos, dengan mata kehijauan yang menatapnya tajam. Machika langsung membayangkan kucing dalam cerita-cerita horror yang pernah dibacanya.
            “Tenang saja. Tidak perlu takut. Kau pasti akan menyukaiku.”
            Deg! Machika menoleh kearah Nek Suma. Nek Suma sedang asyik mengobrol dengan ibunya. Machika memandang berkeliling. Tak ada siapa-siapa kecuali Nek Suma, Ibu, Ayah, dan dirinya. Jadi kucing itu yang berbicara?

(bersambung)  

Thursday, September 8, 2016

MATA KAIL KEBERUNTUNGAN

MATA KAIL KEBERUNTUNGAN
Oleh: Firmanawaty Sutan


            “Uuuhhh…  Sebel! Kenapa sih, nggak ada satu pun ikan yang berhasil terjerat kailku?” gumam Satria kesal. Dengan kasar, ditariknya alat pancing itu dari dalam kolam.
            Hari ini Satria ikut Papa memancing di kolam pemancingan Tirta Mas. Baru kali ini dia ikut Papa mancing. Biasanya di hari Minggu begini, dia lebih suka bermain sepeda bersama teman-temannya. Namun sayang, hari itu teman-temannya sudah punya kesibukan masing-masing.
            Adi akan membantu ayahnya mengecat rumah. Joshua ikut orang tuanya berkunjung ke rumah neneknya yang sedang sakit. Sementara Budi sedang tidak enak badan, katanya. Tadinya sih, Budi mau saja ikut bersepeda dengan Satria. Namun Ibu Budi melarang keras.
            Satria jadi kesal. Tadi dia sudah ingin bersepeda sendiri. Tetapi apa enaknya bersepeda sendiri. Akhirnya dia lalu menawarkan diri ikut Papa memancing. Jadilah dia ada di sini sekarang.
            “Uh… Lagi-lagi sial!” gerutu Satria sambil menghentakkan kaki ke tanah.
            Beberapa pemancing lain menoleh ke arahnya. Wajah mereka nampaknya kesal mendengar gerutu Satria.
            “Ssshhh, kalau lagi mancing itu tidak boleh ribut,” bisik Papa di sampingnya. “Kita pindah saja, yuk!” Papa lalu mengajak pindah ke tempat yang lebih sepi. Papa merasa tidak enak pada pemancing yang lain.
            “Ini, Papa beri mata kail keberuntungan Papa,” kata Papa sambil menyodorkan sebuah mata kail. Mata kail itu nampaknya sudah cukup tua, sudah karatan dan penuh goresan.
            “Coba kamu pakai. Kalau pakai mata kail ini, Papa selalu dapat ikan banyak,” bujuk Papa.
            Dengan senang hati Satria memasang mata kail itu di ujung kailnya. Kemudian dilemparkannya ke air. Huuup…
Satria lalu duduk dengan sabar menantikan keajaiban mata kail tersebut. Angin semilir membuat matanya terasa berat.  Hampir saja kepalanya terkulai lemas ketika tiba-tiba dirasakannya suatu hentakan dari kail yang dipegangnya.
            “Haa! Papa… Bantu, dong! Ikannya besar nih, Pa” soraknya gembira.
            Akhirnya dengan bantuan Papa, Satria berhasil menangkap ikan yang lumayan besar. Dia tersenyum bangga. Dilepaskannya mulut ikan itu dari ujung mata kailnya. Ditaruhnya ikan itu di ember yang sudah disiapkan sebelumnya.
            Ia kemudian kembali memasang umpan di mata kail keberuntungannya itu. Dengan sekali sentak, dia melemparkan alat pancingnya ke dalam kolam. Kali ini aku tidak boleh tertidur lagi, tekadnya.
            Beberapa kali Satria berhasil mendapatkan ikan kembali. Lumayan juga, pikirnya senang.
            “Sudah siang. Kita pulang, yuk!” ajak Papa. “Mama pasti sudah menunggu dengan bumbu ikan bakarnya yang sedap…”
            Satria senang membayangkan sebentar lagi dia menyantap ikan bakar hasil pancingannya sendiri.
            “Papa lihat! Aku berhasil dapat 7 ekor. Mungkin ini karena aku memakai mata kail keberuntungan Papa.”
            “Sebenarnya yang hebat itu bukan mata kailnya, tapi kamu…” kata Papa sambil tersenyum.
            “Kok bisa?” Tanya Satria heran.
            “Kunci keberuntungan memancing itu adalah kesabaran. Tadi waktu pertama, kamu tidak sabar, bahkan sampai marah-marah. Ya… Ikannya jadi lari semua. Tidak mau mendekat. Tapi tadi, ketika kamu sudah lebih tenang, ikan pun mendekat dan memakan umpanmu.”
            “Oh, begitu ya rahasianya? Kapan-kapan aku ikut lagi ya, Pa! aku janji akan bersikap lebih sabar lagi” janji Satria.

            Ia dan papanya lalu tos di udara sambil tertawa lepas.  

Monday, September 5, 2016

Kukupu Songong

Kukupu Songong
Karya: Nira Ayu Hafsari

Aya hiji Kukupu Leutik, awakna camperenik. Sapasang jangjangna warna abu-abu gurat bulao. Jangjangna ngabogaan corak titik-titik warna konéng hérang, dipapaésan tutul-tutul warna hideung.
Alatan kaendahan jangjangna, Kukupu Leutik jadi songong. Manéhna resep  ngabanggakeun diri sarta ngahina ka sato séjén. Sabada papanggih kalayan hiji kumbang  hideung, Kukupu Leutik ngahina,
“Awak manéh goréng, hideung meles kawas areng!”
Sabada nempo hiji bangkong keur moyan di sisi leuwi, Kukupu Leutik ogé ngahina,
“Tonggong manéh geuleuh, sungut manéh ogé rubak pisan!”
Hiji peuting, Kukupu Leutik nempo cahaya kucap-kiceup ngadeuketan ka manéhna. Cahaya éta hurung ti awak sahiji sato anu leutik. Geuning, sato éta téh cika-cika. Diteteupna éta cika-cika baning ku kagum.
Estuning éndah sato éta. Manéhna miboga cahaya caang di awakna.”
Kukupu Leutik hayang ngabogaan cahya kawas cika-cika. Manéhna hayang awakna  jadi leuwih ku cahaya éta. Kukupu Leutik tuluy nanya, “cika-cika, ti mana manéh  meunangkeun cahaya éta? Kuring hayang pisan ngabogaanana, ambéh kuring bisa ulin tipeuting.”
“Kuring saprak borojol geus kieu,” cika-cika ngécéskeun. “Tapi, sakanyaho kuring,  aya barang séjén anu ogé sok ngaluarkeun cahaya, nyaéta seuneu.”
“Di mana seuneu éta aya?”
“Di imah manusa tipeuting.”
Kukupu Leutik pohara atoh ngadéngé guaran cika-cika. Geura-giru manéhna hiber  nuju ka imah manusa. Kukupu Leutik junun asup ngaliwatan celah angin di luhur jandéla.
Kukupu Leutik langsung kagum sabada nempo seuneu murub sanajan anu ngagunakeun minyak. Seuneu éta ngaluarkeun cahaya anu nyaangan sakumna rohangan.
Kalayan pinuh sumanget, Kukupu Leutik ngadeukeutan pelita éta sarta nyamber seuneuna. Manéhna hayang nyokot saeutik seuneu pikeun ditempelkeun dina awakna. Ngan hanjakal, seuneu éta kalahka ngabeuleum jangjangna.
“Awww!” Kukupu Leutik hiber ngajauh bari ceuceuleuweungan nyerieun.
Jangjangna anu éndah kabeuleum. Kukupu Leutik hanjakal alatan teu sugema dina  kaéndahan anu geus dipibogana. Kiwari manéhna teu bisa nganyombongkeun diri deui.