MALING
YANG BERTOBAT
Oleh: Deny
Wibisono
Tobi
adalah seorang pencuri. Setiap kali ia beraksi, ia selalu berhasil. Kalau pun
sampai ketahuan, ia bisa lari secepat kilat. Orang yang mengejarnya pun pasti
akan kehilangan jejaknya. Itulah keahlian Tobi sebagai seorang pencuri.
Sebagai
pencuri, Tobi punya kebiasaan unik. Saat mencuri, ia hanya mengambil benda atau
uang secukupnya. Setelah barang curiannya habis, barulah ia mencuri lagi.
Suatu
hari, Tobi melihat anak kecil menangis. Semula ia tidak peduli. Namun, setelah
mendengar rintihan gadis kecil itu, Tobi jadi tertarik.
“Ibu,
kenapa kalung kesayanganku hilang?” keluh gadis kecil itu seraya menangis
tersedu-sedu.
“Maafkan
Ibu, Nak. Kalung itu dicuri maling. Ibu janji, dua tahun lagi Ibu akan membelikanmu
kalung baru. Sekarang Ibu masih belum punya uang” bujuk ibu gadis kecil itu.
Tobi
teringat, semalam ia baru mencuri kalung gadis kecil itu. Ia lalu pulang dengan
hati bimbang. Setelah kejadian ini, ia ingin berhenti menjadi pencuri. Ia
sadar, ternyata ia telah membuat orang-orang yang dirampoknya menjadi sedih.
Apalagi jika benda-benda yang diambilnya ternyata adalah benda kesayangan.
Tobi
mulai bingung. Keterampilannya selama ini hanya mencuri. Ia tidak punya
keterampilan lain. Lalu bagaimana ia harus menyambung hidupnya? Pekerjaan apa
yang cocok untuknya? Esok harinya, Tobi mulai mencari-cari pekerjaan. Ia
menjadi kuli, petani, pedagang, dan banyak pekerjaan lain. Berhari-hari Tobi
mencari pekerjaan. Namun, semuanya tak ada yang cocok, menurutnya.
Ketika
berjalan-jalan, Tobi bertemu dengan pengemis di jalan.
“Wahai
pengemis, apa kau suka dengan pekerjaanmu?” Tanya Tobi ramah. Tak lupa ia
memberikan sekeping koin.
“Sebenarnya
tidak. Aku sedang berusaha mencari pekerjaan. Aku ingin mengerjakan pekerjaan
yang lebih baik dari pada mengemis,” jawab pengemis itu.
“Masalahmu
sama denganku, Pak!” ujar Tobi putus asa.
“Terus
berusahalah, anak muda. Selama kita pernah berbuat baik, kita akan diberi
kemudahan oleh Tuhan,” nasihat pengemis itu sambil berlalu pergi.
“Berbuat
baik? Apa yang harus aku lakukan?” gumam Tobi bingung.
Tobi
tak tahu harus bekerja apa lagi. Semua pekerjaaan sudah ia coba dan hasilnya
tidak ada yang cocok.
Akhirnya,
Tobi memutuskan untuk mencuri lagi. Ia merasa tidak punya pilihan lain.
Malam
itu Tobi mengendap-ngendap memasuki sebuah rumah. Ia melihat penghuni rumah
telah tertidur. Tobi melangkah tenang karena penghuni rumah itu hanya seorang
nenek.
Tak
lama Tobi sudah berada di dalam rumah. Ketika ia akan mengambil selembaran
uang, Nenek itu tiba-tiba terbangun.
“Cucuku,
akhirnya kamu datang juga. Kesinilah sebentar, pijati punggung Nenek yang
pegal!” kata Nenek itu.
Tobi
terkejut sekali mendengar ocehan si Nenek. Rupanya si Nenek sedang mengigau. Ia
menganggap Tobi sebagai cucunya. Dengan terpaksa, Tobi pun menuruti perintah
sang Nenek.
Tobi
kesal sekali karena disuruh memijat. Apalagi ia belum sempat mencuri. Dengan
terpaksa ia memijati sang Nenek.
Tak
lama kemudian sang Nenek memberi Tobi uang yang lumayan.
“Ini
sebagai imbalan karena kamu pintar memijat, Cu! Terima kasih, ya!” sambung si
Nenek. Sambil mengigau, Nenek itu mengambil uang dari bawah bantalnya, dan
memberikan pada Tobi.
Nenek
itu lalu tidur nyenyak kembali. Tobi yang telah mendapat uang dari hasil memijat,
kemudian pergi. Ia tak jadi mencuri karena sudah mendapat uang.
Setiba
di rumah, Tobi menimang-nimang uang pemberian Nenek. Ia merasa senang sekali,
karena bisa mendapat uang dari hasil bekerja. Tiba-tiba ia tersenyum senang
karena mendapat ide.
“Yah!
Mulai hari ini aku berhenti menjadi pencuri, dan akan menjadi seorang pemijat,”
tekadnya bulat.
Esoknya
Tobi memulai usahanya menawarkan jasa pijat. Rupanya banyak orang yang
membutuhkan pijatan. Hari itu Tobi mendapat uang yang lumayan. Tobi semakin
senang.
Ia
lalu teringat perkataan si pengemis tentang perbuatan baik. Ia mencoba
mengingat-ingat, perbuatan baik apa yang pernah ia lakukan? Tobi merasa tidak
pernah berbuat baik. Satu-satunya kebaikan yang pernah ia lakukan, adalah
memberikan pengemis itu sekeping uang.
Tobi
sadar, meski hanya sekeping uang, ternyata hal itu dapat mengubah hidupnya. Ia
pun berjanji akan berbuat baik lebih banyak lagi.

No comments:
Post a Comment