MACHIKA DAN KUCING AJAIB PART 1
Oleh:
Veronica Widyastuti
Machika
mendongak, mengamati pohon papaya di hadapannya. Hmm, papaya yang bersemburat
jingga itu terlihat menggiurkan. Panas-panas begini, pasti segar makan papaya
dengan kucuran air jeruk nipis dan taburan es batu yang dihancurkan.
Anak
perempuan berumur sepuluh tahun itu sedang menimbang-nimbang, bisakah dia
memanjat pohon papaya itu? Kuatkah si pohon papaya kalau dia panjat? Kalau
sekedar memanjat pohon jambu air di depan rumah, Machika jagonya. Tetapi,
memanjat pohon papaya? Machika belum pernah melakukannya.
Hap!
Hap! Hap! Dengan cekata, Machika mulai naik. Tak sampai lima menit, buah papaya
incarannya sudah di tangan. Tiba-tiba, Machika bingung, bagaimana cara dia
turun? Dengan satu tangan memegang papaya, Machika jadi tidak bisa berpegangan
di pohon.
“Machikaaa!”
Gubrak!
Teriakan Ibu menjawab kebingungan Machika. Saking kagetnya, Machika pun jatuh,
langsung mendarat ke tanah dengan tangan kanan tetap memegang buah papaya.
Machika meringis menahan sakit. Pohon papaya yang dipanjatnya memang tidak
terlalu tinggi. Tetapi, kalau jatuh dari atas, tetap berasa sakitnya.
“Machika!
Ya ampun, Machika! Kenapa enggak pakai galah saja sih?” sambut Ibu panik sambil
menolong Machika berdiri. “Ada yang sakit?”
Machika
membisu menatap ibunya. Jatuh dari pohon, enggak mungkin kalau enggak sakit,
batinnya. Tetapi, dia gengsi. Memanjat pohon kan memang hobinya. Kalau Cuma
jatuh begitu saja, dia tak ingin terlihat lemah.
Untung
sakit Machika tak serius. Buktinya sebentar kemudian dia sudah asyik menikmati
papaya segar yang dipotong kecil-kecil, diciprat air jeruk nipis, dan ditaburi
es batu yang dihancurkan. Segaaar!
Sayang,
kesegaran yang dinikmatinya tak berlangsung lama. Tiba-tiba Ibu dan Ayah
memanggil Machika, lalu menyuruhnya duduk di hadapan mereka. Duh, Machika jadi
deg-degan. Apa yang akan mereka sampaikan? Masa sih hanya gara-gara memanjat
pohon papaya dia harus dihukum? Biarpun jatuh dia kan tidak menangis maupun
mengeluh?
“Machika,”
Ibu memulai pembicaraan. “Ayah dan Ibu sudah berdiskusi. Sepertinya Ayah dan
Ibu akan sakit kepala kalau selama libur seminggu ini kamu hanya tinggal di
rumah. Bagaimana kalau kami mengantarmu berlibur di rumah Nek Suma? Nek Suma
pasti senang kalau kamu menemaninya.”
Ups,
Machika tercekat. Nek Suma adalah ibu dari ibu Machika. Sebenarnya, Nek Suma
cukup menyenangkan. Nek Suma bisa menerima kebandelan-kebandelan yang dilakukan
Machika. Nek Suma tidak marah ketika Machika menyembunyikan sandal kirinya. Nek
Suma juga tidak gusar ketika Machika menggoda Nek Suma dengan membunyikan bel
rumah, lalu lari bersembunyi.
Tetapi,
kadang-kadang Machika merasa kalau Nek Suma itu misterius dan menyeramkan.
Machika pernah melihat Nek Suma malam-malam menabur garam di halaman. Machika
juga pernah memergoki Nek Suma menabur bunga mawar dan melati di kamarnya.
Hiii, Machika jadi merasa seram. Kok seperti nenek sihir ya?
Waktu
itu sih Nek Suma sudah menjelaskan kalau dia menaburkan garam di halaman untuk
mengusir ular. Soalnya malam sebelumnya ada tetangganya yang melihat ular di
pekarangan rumah Nek Suma. Ah, padahal Machika tahu kalau ular tidak takut pada
garam!
Lalu,
alasan menabur bunga mawar dan melati, sebagai pengharum ruangan alami. Nek
Suma suka wanginya. Tetap saja, Machika merasa aneh dengan perilaku Nek Suma
itu.
Tetapi,
benar juga kata Ibu, kalau libur seminggu ini Machika hanya di rumah, selain
membuat Ayah dan Ibu sakit kepala, Machika juga pasti akan merasa bosan.
Akhirnya, Machika setuju untuk menghabiskan liburan di rumah Nek Suma.
“Machika!
Nenek senang kamu mau berlibur di sini. Kebetulan, Nenek punya kucing baru, si
Hitam. Kamu bisa belajar bertanggungjawab dengan memelihara si Hitam. Nanti,
kamu yang bertugas memberinya makan dan memandikannya ya!” sambut Nek Suma
ketika Machika datang diantar Ayah dan Ibu.
Kucing?
Ih, Machika tak suka kucing! Apalagi, ketika Machika melihat kucing yang diberi
nama Hitam oleh Nek Suma. Bulunya memang hitam polos, dengan mata kehijauan
yang menatapnya tajam. Machika langsung membayangkan kucing dalam cerita-cerita
horror yang pernah dibacanya.
“Tenang
saja. Tidak perlu takut. Kau pasti akan menyukaiku.”
Deg!
Machika menoleh kearah Nek Suma. Nek Suma sedang asyik mengobrol dengan ibunya.
Machika memandang berkeliling. Tak ada siapa-siapa kecuali Nek Suma, Ibu, Ayah,
dan dirinya. Jadi kucing itu yang berbicara?
(bersambung)

No comments:
Post a Comment