MATA KAIL KEBERUNTUNGAN
Oleh:
Firmanawaty Sutan
“Uuuhhh… Sebel! Kenapa sih, nggak ada satu pun ikan
yang berhasil terjerat kailku?” gumam Satria kesal. Dengan kasar, ditariknya
alat pancing itu dari dalam kolam.
Hari
ini Satria ikut Papa memancing di kolam pemancingan Tirta Mas. Baru kali ini
dia ikut Papa mancing. Biasanya di hari Minggu begini, dia lebih suka bermain
sepeda bersama teman-temannya. Namun sayang, hari itu teman-temannya sudah
punya kesibukan masing-masing.
Adi
akan membantu ayahnya mengecat rumah. Joshua ikut orang tuanya berkunjung ke
rumah neneknya yang sedang sakit. Sementara Budi sedang tidak enak badan,
katanya. Tadinya sih, Budi mau saja ikut bersepeda dengan Satria. Namun Ibu
Budi melarang keras.
Satria
jadi kesal. Tadi dia sudah ingin bersepeda sendiri. Tetapi apa enaknya
bersepeda sendiri. Akhirnya dia lalu menawarkan diri ikut Papa memancing.
Jadilah dia ada di sini sekarang.
“Uh…
Lagi-lagi sial!” gerutu Satria sambil menghentakkan kaki ke tanah.
Beberapa
pemancing lain menoleh ke arahnya. Wajah mereka nampaknya kesal mendengar
gerutu Satria.
“Ssshhh,
kalau lagi mancing itu tidak boleh ribut,” bisik Papa di sampingnya. “Kita
pindah saja, yuk!” Papa lalu mengajak pindah ke tempat yang lebih sepi. Papa
merasa tidak enak pada pemancing yang lain.
“Ini,
Papa beri mata kail keberuntungan Papa,” kata Papa sambil menyodorkan sebuah
mata kail. Mata kail itu nampaknya sudah cukup tua, sudah karatan dan penuh
goresan.
“Coba
kamu pakai. Kalau pakai mata kail ini, Papa selalu dapat ikan banyak,” bujuk
Papa.
Dengan
senang hati Satria memasang mata kail itu di ujung kailnya. Kemudian
dilemparkannya ke air. Huuup…
Satria lalu duduk
dengan sabar menantikan keajaiban mata kail tersebut. Angin semilir membuat
matanya terasa berat. Hampir saja
kepalanya terkulai lemas ketika tiba-tiba dirasakannya suatu hentakan dari kail
yang dipegangnya.
“Haa!
Papa… Bantu, dong! Ikannya besar nih, Pa” soraknya gembira.
Akhirnya
dengan bantuan Papa, Satria berhasil menangkap ikan yang lumayan besar. Dia
tersenyum bangga. Dilepaskannya mulut ikan itu dari ujung mata kailnya.
Ditaruhnya ikan itu di ember yang sudah disiapkan sebelumnya.
Ia
kemudian kembali memasang umpan di mata kail keberuntungannya itu. Dengan
sekali sentak, dia melemparkan alat pancingnya ke dalam kolam. Kali ini aku
tidak boleh tertidur lagi, tekadnya.
Beberapa
kali Satria berhasil mendapatkan ikan kembali. Lumayan juga, pikirnya senang.
“Sudah
siang. Kita pulang, yuk!” ajak Papa. “Mama pasti sudah menunggu dengan bumbu
ikan bakarnya yang sedap…”
Satria
senang membayangkan sebentar lagi dia menyantap ikan bakar hasil pancingannya
sendiri.
“Papa
lihat! Aku berhasil dapat 7 ekor. Mungkin ini karena aku memakai mata kail
keberuntungan Papa.”
“Sebenarnya
yang hebat itu bukan mata kailnya, tapi kamu…” kata Papa sambil tersenyum.
“Kok
bisa?” Tanya Satria heran.
“Kunci
keberuntungan memancing itu adalah kesabaran. Tadi waktu pertama, kamu tidak
sabar, bahkan sampai marah-marah. Ya… Ikannya jadi lari semua. Tidak mau
mendekat. Tapi tadi, ketika kamu sudah lebih tenang, ikan pun mendekat dan
memakan umpanmu.”
“Oh,
begitu ya rahasianya? Kapan-kapan aku ikut lagi ya, Pa! aku janji akan bersikap
lebih sabar lagi” janji Satria.
Ia
dan papanya lalu tos di udara sambil tertawa lepas.

No comments:
Post a Comment