Thursday, September 8, 2016

MATA KAIL KEBERUNTUNGAN

MATA KAIL KEBERUNTUNGAN
Oleh: Firmanawaty Sutan


            “Uuuhhh…  Sebel! Kenapa sih, nggak ada satu pun ikan yang berhasil terjerat kailku?” gumam Satria kesal. Dengan kasar, ditariknya alat pancing itu dari dalam kolam.
            Hari ini Satria ikut Papa memancing di kolam pemancingan Tirta Mas. Baru kali ini dia ikut Papa mancing. Biasanya di hari Minggu begini, dia lebih suka bermain sepeda bersama teman-temannya. Namun sayang, hari itu teman-temannya sudah punya kesibukan masing-masing.
            Adi akan membantu ayahnya mengecat rumah. Joshua ikut orang tuanya berkunjung ke rumah neneknya yang sedang sakit. Sementara Budi sedang tidak enak badan, katanya. Tadinya sih, Budi mau saja ikut bersepeda dengan Satria. Namun Ibu Budi melarang keras.
            Satria jadi kesal. Tadi dia sudah ingin bersepeda sendiri. Tetapi apa enaknya bersepeda sendiri. Akhirnya dia lalu menawarkan diri ikut Papa memancing. Jadilah dia ada di sini sekarang.
            “Uh… Lagi-lagi sial!” gerutu Satria sambil menghentakkan kaki ke tanah.
            Beberapa pemancing lain menoleh ke arahnya. Wajah mereka nampaknya kesal mendengar gerutu Satria.
            “Ssshhh, kalau lagi mancing itu tidak boleh ribut,” bisik Papa di sampingnya. “Kita pindah saja, yuk!” Papa lalu mengajak pindah ke tempat yang lebih sepi. Papa merasa tidak enak pada pemancing yang lain.
            “Ini, Papa beri mata kail keberuntungan Papa,” kata Papa sambil menyodorkan sebuah mata kail. Mata kail itu nampaknya sudah cukup tua, sudah karatan dan penuh goresan.
            “Coba kamu pakai. Kalau pakai mata kail ini, Papa selalu dapat ikan banyak,” bujuk Papa.
            Dengan senang hati Satria memasang mata kail itu di ujung kailnya. Kemudian dilemparkannya ke air. Huuup…
Satria lalu duduk dengan sabar menantikan keajaiban mata kail tersebut. Angin semilir membuat matanya terasa berat.  Hampir saja kepalanya terkulai lemas ketika tiba-tiba dirasakannya suatu hentakan dari kail yang dipegangnya.
            “Haa! Papa… Bantu, dong! Ikannya besar nih, Pa” soraknya gembira.
            Akhirnya dengan bantuan Papa, Satria berhasil menangkap ikan yang lumayan besar. Dia tersenyum bangga. Dilepaskannya mulut ikan itu dari ujung mata kailnya. Ditaruhnya ikan itu di ember yang sudah disiapkan sebelumnya.
            Ia kemudian kembali memasang umpan di mata kail keberuntungannya itu. Dengan sekali sentak, dia melemparkan alat pancingnya ke dalam kolam. Kali ini aku tidak boleh tertidur lagi, tekadnya.
            Beberapa kali Satria berhasil mendapatkan ikan kembali. Lumayan juga, pikirnya senang.
            “Sudah siang. Kita pulang, yuk!” ajak Papa. “Mama pasti sudah menunggu dengan bumbu ikan bakarnya yang sedap…”
            Satria senang membayangkan sebentar lagi dia menyantap ikan bakar hasil pancingannya sendiri.
            “Papa lihat! Aku berhasil dapat 7 ekor. Mungkin ini karena aku memakai mata kail keberuntungan Papa.”
            “Sebenarnya yang hebat itu bukan mata kailnya, tapi kamu…” kata Papa sambil tersenyum.
            “Kok bisa?” Tanya Satria heran.
            “Kunci keberuntungan memancing itu adalah kesabaran. Tadi waktu pertama, kamu tidak sabar, bahkan sampai marah-marah. Ya… Ikannya jadi lari semua. Tidak mau mendekat. Tapi tadi, ketika kamu sudah lebih tenang, ikan pun mendekat dan memakan umpanmu.”
            “Oh, begitu ya rahasianya? Kapan-kapan aku ikut lagi ya, Pa! aku janji akan bersikap lebih sabar lagi” janji Satria.

            Ia dan papanya lalu tos di udara sambil tertawa lepas.  

No comments:

Post a Comment